My title page contents

Majalah Diving dan Kelautan Indonesia

Beberapa Faktor Dibalik Gagalnya Lelang Harta Karun BMKT

06 Mei
21:46 2010
Beberapa Faktor Dibalik Gagalnya Lelang Harta Karun BMKT

Jakarta – Gagalnya pelelangan harta karun Benda Muatan Kapal Tenggelam (BMKT) di Perairan Cirebon yang bernilai Rp720 miliar itu disebabkan banyak faktor.

Menurut Koordinator Konsorsium Penyelamat Aset Bangsa (KPAB), Endro Soebekti Sadjiman, sedikitnya ada tujuh faktor penyebab kegagalan tersebut; pertama minimnya publikasi tentang item barang yang akan dilelang; kedua tidak adanya “Open House/expo” pameran terhadap publik/investor/calon pembeli, tentang barang yang akan dilelang.

Ketiga tidak adanya katalog barang lelang, yang ada hanya buku dan “flyers” tentang BMKT Cirebon.

“Katalog, harusnya disediakan, sehingga memudahkan calon investor melihat barang-barang yang diminati,” katanya kepada wartawan, Kamis (5/5) malam.

Keempat panitia tidak memiliki standar pelelangan, selayaknya pelelangan internasional terhadap benda yang memiliki nilai arkeologi, sejarah dan seni yang tinggi.

“Pelelangan BMKT Cirebon, seperti disamakan dengan pelelangan aset Negara lainnya, seperti melelang barang sitaan gedung, tanah dan barang umum,” ujarnya.

Kelima bahwa masa waktu dan proses pelelangan yang sangat pendek, bahkan terkesan adanya pemaksaan agar lelang harus segera dilaksanakan. Hal ini dapat dilihat dari masa publikasi, pendaftaran peserta lelang, undangan peminat lelang, briefing peserta lelang serta penyerahan down payment lelang, katanya.

Keenam yaitu faktor uang muka (Down Payment) sebesar 20 persen yang dinilai memberatkan, peminat lelang harus menyerahkan minimal 16 Juta dolar AS kepada panita lelang dengan jangka waktu yang sangat pendek adalah kebijakan yang tidak rasional.

Ketujuh yaitu ketidakseriusan pemerintah dan Pannas lelang BMKT melaksanakan lelang berstandar internasional, sehingga menjadi salah satu faktor kegagalan lelang BMKT tersebut. Oleh karena itu, kata Endro, KPAD minta pemerintah memunda lelang BMKT Cirebon, sampai pemerintah memiliki kesiapan pelakasanaan lelang yang berstandar internasional.

Endro mengusulkan, sebaiknya pemerintah tidak perlu melaksanakan lelang tapi menjadikan harta karun BMKT sebagai kekayaan sejarah, budaya dan ilmu pengetahuan bangsa Indonesia, dengan memberikan kompensasi berupa dana bagi rakyat yang telah bekerja mengambil harta karun dan mereka yang telah melaksanakan survei.

Sebelumnya dalam pelelangan 271 ribu keping benda muatan kapal tenggelam (BMKT) berusia 1.000 tahun yang diangkat dari perairan utara Cirebon, Jabar, menemui kegagalan. Secara resmi, Panitia Nasional Pengangkatan dan Pemanfaatan (PANNAS) lelang BMKT Cirebon menyatakan lelang untuk diakhiri.

“Dikarenakan tidak ada penawaran dan uang jaminan, maka saya menyatakan lelang hari ini ditutup,” kata Pejabat Kantor Piutang Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Jakarta III, Iraningsih dalam konperensi pers di kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta, Kamis malam.

Adapun nilai keseluruhan harta karun atau BMKT berusia sepuluh abad tersebut minimal Rp 720 miliar. Harta karun yang ditemukan di perairan Cirebon itu meliputi perhiasan seperti rubi, mutiara, perhiasan emas, batu, kristal Dinasti Fatimiya, pecah belah Iran, dan keramik-keramik China. Termasuk juga sarung golok emas dan rock crystal yang diyakini sebagai peninggalan anggota keluarga Nabi Muhammad SAW.(Ant)

1 Komentar

Tidak ada Komentar!

Jadilah orang pertama yang memberi komentar.

Beri Komentar

Beri Komentar

Your email address will not be published.
Required fields are marked *

Subscribe via RSS