My title page contents

Majalah Diving dan Kelautan Indonesia

Ayo Bangkit Menjadi Bangsa Bahari yang Kuat dan Mandiri

01 Juni
11:43 2008

Gentry Amalo – Indosmarin.com

DenpasarIndonesia, telah lama dikenal sebagai negeri kepulauan. Ini dibuktikan dengan hasil penelitian Janhidros Mabes TNI-AL pada 1992 yang menyebutkan bahwa Indonesia memiliki sedikitnya 17.500 pulau besar dan kecil. Sebagai negeri kepulauan, sudah tentu Indonesia memiliki akar budaya bahari, yang dalam konteks negara modern saat ini tersebar mulai dari Pulau Sabang hingga sepanjang pesisir Pulau Papua.

Tetapi jauh sebelum itu, bahkan jauh sebelum Sriwijaya, Majapahit, Melayu, Bugis, Makassar, Ternate, Tidore dan lain-lain berjaya di masanya masing-masing, nenek moyang Bangsa Indonesia telah melayari perairan Asia Tenggara, Asia Selatan bahkan hingga ke Pasifik. Tidak heran jika kemudian budaya maritim ini, begitu melekat dalam diri Bangsa Indonesia.

Duabelas tahun, usai meraih kemerdekaan sebagai bangsa yang berdaulat, Indonesia kemudian mengajukan batas-batas maritim kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa. Adapun usulan Indonesia soal batas-batas maritim ini sempat menjadi perdebatan karena negara-negara seperti Inggris, Amerika Serikat dan Australia menganggap batas-batas maritim Indonesia ini akan mengganggu kepentingan nasional negara-negara Anglo-Saxon ini. Apalagi saat itu, Inggris memiliki kepentingan membentuk Federasi Malaysia, yang terdiri atas negara-negara kerajaan pesisir di Semenanjung Malaya, Singapura, dan Kalimantan Utara (Sabah, Serawak, Brunai). Kendati pada akhirnya Singapura dan Brunai menyatakan diri keluar dari Federasi ini dan berdiri menjadi negara sendiri.

Memahami Indonesia sebagai negara kepulauan, PBB pun mengamini permintaan Indonesia dan kemudian mensahkan batas-batas maritim Indonesia ini pada Desember 1957. Sebagai bentuk penghormatan atas kemenangan ini, pemerintah Indonesia kemudian menyebutnya sebagai “Deklarasi Juanda”.

Sayangnya, upaya membangun karakter sebagai bangsa maritim ini, kemudian hilang begitu saja, seiring dengan semakin kuatnya Orde Baru. Pembelokan dan pembodohan terus dilakukan di sekolah-sekolah kita mulai dari tingkat SD hingga perguruan tinggi. Dalam buku-buku sejarah, selalu disebutkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa agraris.

Orientasi agraris ini tidak hanya dalam hal pendidikan dan ekonomi semata, tetapi juga merambah hingga ke seluruh sendi pembangunan termasuk sistem pertahanan nasional kita. Hal ini tidak heran karena Soeharto, adalah anak petani dan juga Jenderal Angkatan Darat.

Orientasi pembangunan yang bersifat agraris inilah yang kemudian menjadi penyebab utama terjadinya ketimpangan pembangunan. Tidak heran jika kemajuan pembangunan hanya terjadi pada masyarakat agraris yang sebagian besar menetap di Jawa, Sumatra dan Bali. Sementara di Kalimantan, Papua, Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara, sebagian besar masyarakatnya masih hidup dari berburu dan meramu, seolah hanya jadi obyek penderita dari program pembangunan nasional. Padahal masyarakat Indonesia Timur yang sebagian besar tinggal di pulau-pulau kecil, sehari-harinya hidup dari berburu hewan di hutan atau berburu hasil laut seperti ikan, teripang, serta beragam hasil laut lainnya(*)

Tags
Share

0 Komentar

Tidak ada Komentar!

Jadilah orang pertama yang memberi komentar.

Beri Komentar

Beri Komentar

Your email address will not be published.
Required fields are marked *

Subscribe via RSS