My title page contents

Majalah Diving dan Kelautan Indonesia

“Rai Hawu”, Pulau Tanpa Huruf “S” dan “W”

16 Juni
13:39 2008

Hari Suroto-Indosmarin.com

Makassar – Pulau Sawu atau Sabu, adalah salah satu pulau kecil, yang terletak di sebelah timur Pulau Sumba dan sebelah barat Pulau Rote, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Di pulau kecil ini bermukimlah sejumlah orang, yang disebut orang-orang Sawu. Portugis-lah yang pertama-tama menyebut pulau ini “Savo“, sementara Belanda menyebutnya “Savu”. Secara administratif Indonesia menyebut pulau ini “Sawu” atau “Sabu“.

Namun, dalam struktur bahasa Sabu tidak mengenal baik penggunaan huruf “s” maupun “w”, jadi penduduk Sabu sendiri menyebut pulau ini, dengan sebutan “Rai Hawu“, yang berarti “Pulau Hawu“.

Memang tidak terlalu aneh kalau kita tidak tahu menahu tentang mereka. Publikasi tentang orang Sabu bisa dihitung dengan jari. Mereka yang pernah menulis orang Sabu tercatat antara lain W.M. Donselaar pada 1864-1872, J.K. Wijngaarden pada 1890-1892, J.H. Letterboer pada 1896-1903, dan F.H. van de Wetering pada 1926. Baru setelah James J. fox pada 1977 mempublikasikan bukunya Harvest of the Palm: ecological change in eastern Indonesia, dunia Sawu menjadi lebih dikenal orang.

Wilayah yang ditinggali orang Sabu ini tandus dan gersang. Keadaan iklim di pulau Sabu dipengaruhi letaknya yang berdekatan dengan Australia. Ciri-ciri khasnya adalah musim kemarau panjang dengan curah hujan rendah. Dalam setahun hanya 14-69 hari musim hujan. Itupun jika sang musim menepati janji. Sejauh mata memandang hanya nampak bukit-bukit kapur kurang subur.

Ada beberapa puncak perbukitan yang menjulang, tapi tidak lebih dari 250-an meter. Diantara perbukitan gundul, walaupun keadaan pulau itu gundul, berbatu-batu, namun orang Sabu tidak memperlihatkan kesediaan untuk bermukim di tempat lain yang lebih subur.

Pulau Sabu terletak beberapa ratus kilometer arah barat Timor, tepatnya di tengah-tengah lautan yang dianggap sangat berbahaya bagi pelayaran, khususnya pada musim angin barat. Oleh karena letaknya yang terpencil, kompeni Belanda menganggap pulau ini sebagai pulau kecil yang tidak berharga, dan dalam beberapa hal tertentu orang Sabu berhasil melaksanakan urusan di dalam pulaunya tanpa campur tangan Belanda(*)

Tags
Share

0 Komentar

Tidak ada Komentar!

Jadilah orang pertama yang memberi komentar.

Beri Komentar

Beri Komentar

Your email address will not be published.
Required fields are marked *

Subscribe via RSS